BAB II
PEMBAHASAN
Kependudukan
atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia.
Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana
jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta
penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau
kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan,
agama, atau etnisitas tertentu.
A. Pengertian Penduduk
A. Pengertian Penduduk
Penduduk adalah
orang yang berdomisili atau bertempat tinggal menetap di wilayah suatu negara
dan telah memiliki syarat menurut undang-undang. Sedangkan yang disebut bukan
penduduk adalah orang yang berada di wilayah negara untuk sementara serta tidak
bermaksud bertempat tinggal tetap di negara itu. Adanya perbedaan itu maka
berbeda pula hak dan kewajibannya. Penduduk boleh mendirikan suatu perkumpulan
dan bleh melakukan suatu pekerjaan, bukan penduduk tidak memiliki hak dan
kewajiban itu.
B. Pertumbuhan Penduduk
Salah satu yang
menjadi permasalahan suatu Negara adala pertumbuhan penduduk suatu negara.
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat
dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan
“per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada
semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara
informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan
untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
Pertumbuhan penduduk adalah
perubahan populasi yang dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu
sewaktu-waktu, dan untuk dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit”
untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi
selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk
sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada
pertumbuhan penduduk dunia.
Dalam demografi dan ekologi, nilai
pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam
sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada
periode waktu unit, sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam
populasi ketika dimulainya periode.
Cara yang paling umum untuk
menghitung pertumbuhan penduduk adalah rasio, bukan nilai. Perubahan populasi
pada periode waktu unit dihitung sebagai persentase populasi ketika dimulainya
periode. Ketika pertumbuhan penduduk
dapat melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan hasilnya berakhir
dengan kelebihan penduduk. Gangguan dalam populasi manusia dapat menyebabkan
masalah seperti polusi dan kemacetan lalu lintas, meskipun dapat ditutupi
perubahan teknologi dan ekonomi. Wilayah tersebut dapat dianggap “kurang
penduduk” bila populasi tidak cukup besar untuk mengelola sebuah sistem
ekonomi. Saat ini percepatan pertumbuhan penduduk mencapai 1,3 persen per
tahun. Ini sudah mencapai titik yang membahayakan dan harus segera ditekan
dengan penggalakan program Keluarga Berencana (KB). Jika upaya mengatasi laju
pertumbuhan penduduk ini tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka
mustahil sasaran perbaikan kesejahteraan rakyat dapat tercapai.oleh karena itu
kita memerlukan terobosan-terobosan baru untuk mengendalikan pertumbuhan
penduduk melalui program-program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah,seperti
Keluarga Berencana (KB). Bahkan Presiden pun ikut mengajak
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dan Pemda serta LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk meningkatkan sosialisasi penyuluhan KB.Sebab itu, Presiden SBY meminta agar seluruh pejabat melibatkan diri untuk mendukung program KB agar benar-benar berhasil, sehingga masa depan masyarakat Indonesia menjadi cerah, karena berapa pun pertumbuhan ekonomi yang dicapai jika pertumbuhan penduduk terus membengkak, maka kesejahteraan rakyat tidak akan pernah berhasil. Presiden juga mengatakan, pembangunan masyarakat Indonesia perlu memprioritaskan kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan, seperti anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar,dan masih banyak contoh lainnya.
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) dan Pemda serta LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk meningkatkan sosialisasi penyuluhan KB.Sebab itu, Presiden SBY meminta agar seluruh pejabat melibatkan diri untuk mendukung program KB agar benar-benar berhasil, sehingga masa depan masyarakat Indonesia menjadi cerah, karena berapa pun pertumbuhan ekonomi yang dicapai jika pertumbuhan penduduk terus membengkak, maka kesejahteraan rakyat tidak akan pernah berhasil. Presiden juga mengatakan, pembangunan masyarakat Indonesia perlu memprioritaskan kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan, seperti anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar,dan masih banyak contoh lainnya.
Kepala Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Sjarief menyatakan, Indonesia harus segera
mengerem laju pertumbuhan penduduk. Maklum, saat ini laju pertumbuhan penduduk
Indonesia memang cukup tinggi, yakni 2,6 juta jiwa per tahun. “Jika ini tidak
diatasi, maka 10 tahun lagi Indonesia akan mengalami ledakan penduduk,” kata
Sugiri, kemarin.
Tahun ini, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 230,6 juta jiwa. Tanpa KB, 11 tahun lagi atau pada 2020, penduduk Indonesia akan mencapai 261 juta manusia.
Tahun ini, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 230,6 juta jiwa. Tanpa KB, 11 tahun lagi atau pada 2020, penduduk Indonesia akan mencapai 261 juta manusia.
Tetapi jika KB berhasil menekan
angka laju pertumbuhan 0,5% per tahun, maka jumlah penduduk 2020 hanya naik
menjadi sekitar 246 juta jiwa. Ini berarti KB bisa menekan angka kelahiran
sebanyak 15 juta jiwa dalam 11 tahun, atau 1,3 juta jiwa dalam setahun. Jika penurunan laju pertumbuhan penduduk
sebanyak itu bisa tercapai, berarti negara bisa menghemat triliunan rupiah
untuk biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Selain itu, dengan jumlah
kelahiran yang terkendali, target untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan ibu
dan anak, pengurangan angka kemiskinan, dan peningkatan pendapatan per kapitan
dapat lebih mudah direalisasikan.
Sugiri memaparkan, pada 2006
rata-rata angka kelahiran mencapai 2,6 anak per wanita subur. Angka tersebut
tidak berubah pada 2007, sedangkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata masih
2,6 juta jiwa per tahun.
Untuk bisa menekan angka kelahiran sampai 1,3 juta jiwa setahun, BKKBN menargetkan tahun ini peserta KB baru dari keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera mencapai 12,9 juta keluarga.
Untuk bisa menekan angka kelahiran sampai 1,3 juta jiwa setahun, BKKBN menargetkan tahun ini peserta KB baru dari keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera mencapai 12,9 juta keluarga.
Sugiri mengakui, pelaksanaan Progam
KB kini kurang berdenyut seperti era Orde Baru. Pasalnya, di era otonomi saat
ini, pemerintah daerah yang jadi ujung tombak pelaksanaan program justru loyo.
Selain itu, BKKBN juga kekurangan petugas lapangan. Saat ini KB didukung oleh
22.000 petugas, “Kami butuh 13.000 penyuluh lagi.”
Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan penduduk indonesia adalah sebagai berikut:
1.kelahiran
2.kematian
3.perpindahan penduduk(migrasi)
Migrasi ada dua,migrasi yang dapat
menambah jumlah penduduk disebut migrasi masuk(imigrasi),dan yang dapat
mengurangi jumlah penduduk disebut imigrasi keluar(emigrasi).
a. Kelahiran (Natalitas)
Kelahiran bersifat menambah jumlah
penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan
yang mendukung kelahiran (pro natalitas)
Faktor-faktor penunjang kelahiran
(pro natalitas) antara lain:
Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu. Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua. Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua. Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi. Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar.
Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:
Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu. Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua. Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua. Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi. Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar.
Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:
Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
Adanya ketentuan batas usia menikah,
untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi laki-laki minimal berusia 19
tahun.
Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adanya pembatasan tunjangan anak
untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan hanya sampai anak ke – 2. Penundaaan
kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
b. Kematian (Mortalitas)
Kematian bersifat mengurangi jumlah
penduduk.
Banyaknya angka kematian sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung kematian(pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).
1.faktor pendukung kematian(pro mortalitas)
Banyaknya angka kematian sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung kematian(pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).
1.faktor pendukung kematian(pro mortalitas)
Faktor ini mengakibatkan jumlah
kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah:
- Sarana kesehatan yang kurang
memadai.
- Rendahnya kesadaran masyarakat
terhadap kesehatan
- Terjadinya berbagai bencana alam
- Terjadinya peperangan
- Terjadinya kecelakaan lalu lintas
dan industry
- Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.
2.faktor penghambat kematian(anti
mortalitas)
Faktor ini dapat mengakibatkan
tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:
- Lingkungan hidup sehat.
- Fasilitas kesehatan tersedia dengan
lengkap.
- Ajaran agama melarang bunuh diri dan
membunuh orang lain.
- Tingkat kesehatan masyarakat
tinggi.
- Semakin tinggi tingkat pendidikan
penduduk
Dampak Negatif Pertumbuhan Penduduk
Lainnya:
Lahan tempat tinggal dan bercocok tanam berkurang
semakin banyaknya polusi dan limbah yang berasal dari rumah tangga, pabrik, perusahaan, industri, peternakan, angka pengangguran meningkat, angka kesehatan masyarakat menurun, angka kemiskinan meningkat, pembangunan daerah semakin dituntut banyak, ketersediaan pangan sulit, pemerintah harus membuat kebijakan yang rumit, angka kecukupan gizi memburuk dan muncul wanah penyakit baru.
Lahan tempat tinggal dan bercocok tanam berkurang
semakin banyaknya polusi dan limbah yang berasal dari rumah tangga, pabrik, perusahaan, industri, peternakan, angka pengangguran meningkat, angka kesehatan masyarakat menurun, angka kemiskinan meningkat, pembangunan daerah semakin dituntut banyak, ketersediaan pangan sulit, pemerintah harus membuat kebijakan yang rumit, angka kecukupan gizi memburuk dan muncul wanah penyakit baru.
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk
mengimbangi pertambahan jumlah penduduk :
- Penambahan dan penciptaan lapangan kerja dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang kependudukan.
- Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan. Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut mensukseskan gerakan keluarga berencana.
- Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi.
- Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
- Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan.
- Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah diharapkan mengusahakan swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk
menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :
- Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran.
- Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi.
Kesimpulannya adalah bahwa
pertumbuhan penduduk berkaitan dengan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat.
Pengetahuan tentang aspek-aspek dan komponen demografi seperti fertilitas,
mortalitas, morbiditas, migrasi, ketenagakerjaan, perkawinan, dan aspek keluarga
dan rumah tangga akan membantu para penentu kebijakan dan perencana program
untuk dapat mengembangkan program pembangunan kependudukan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat yang tepat sasaran.
Nilai
pertumbuhan penduduk (NPP) adalah nilai kecil dimana jumlah individu dalam
sebuah populasi meningkat. NPP hanya merujuk pada perubahan populasi pada
periode waktu unit, sering diartikan sebagai persentase jumlah individu dalam
populasi ketika dimulainya periode. Ini dapat dituliskan dalam rumus:
P = Po ekt
Dimana,
P =
Banyaknya penduduk pada akhir tahun
Po =
Banyaknya penduduk pada tahun awal
e =
Angka eksponensial 2,71828
k =
Angka pertumbuhan penduduk
t =
Jangka waktu
Cara yang paling umum untuk menghitung
pertumbuhan penduduk adalah rasio, bukan nilai. Perubahan populasi pada periode
waktu unit dihitung sebagai persentase populasi ketika dimulainya periode.
Hal- hal yang
mempengaruhi pertumbuhan penduduk:
Fertilitas adalah kelahiran hidup (live birth)
yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan tanda-tanda
kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, berdenyut jantungnya, dsb. Fekunditas
adalah petunjuk kepada kemampuan fisiologis dan biologis seorang perempuan
untuk menghasilkan anak lahir hidup.
Tingkat Fertilitas Kasar
Crude Birth Ratio (CBR) = B /
(Pm x k)
Dimana :
D =
Jumlah kelahiran pada tahun tertentu (dari hasil registrasi penduduk).
Pm = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun (pada bulan Juni/Juli)
k = bilangan konstanta yang biasanya bernilai 100
Pm = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun (pada bulan Juni/Juli)
k = bilangan konstanta yang biasanya bernilai 100
Mortalitas
adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada
suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas
khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun,
hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat
950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada
jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu.
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa
menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi
setiap saat setelah kelahiran hidup.
Tingkat Kematian Kasar
Crude Death Ratio (CDR) =
Pm x k
Dimana :
D =
Jumlah kematian pada tahun tertentu (dari hasil registrasi penduduk).
Pm = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun (pada bulan Juni/Juli)
k = bilangan konstanta yang biasanya bernilai 100
Pm = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun (pada bulan Juni/Juli)
k = bilangan konstanta yang biasanya bernilai 100
Faktor sosial
ekonomi seperti pengetahuan tentang kesehatan, gisi dan kesehatan lingkungan,
kepercayaan, nilai-nilai, dan kemiskinan merupakan faktor individu dan
keluarga, mempengaruhi mortalitas dalam masyarakat (Budi Oetomo, 1985).
Tingginya kematian ibu merupakan cerminan dari ketidak tahuan masyarakat
mengenai pentingnya perawatan ibu hamil dan pencegahan terjadinya komplikasi
kehamilan.
Perkawinan
merubah status seseorang dari bujangan atau janda/duda menjadi berstatus kawin.
Dalam demografi status perkawinan penduduk dapat dibedakan menjadi status belum
pernah menikah, menikah, pisah atau cerai, janda atau duda. Di daerah dimana
pemakaian KB rendah, rata-rata umur penduduk saat menikah pertama kali serta
lamanya seseorang dalam status perkawinan akan mempengaruhi tinggi rendahnya
tingkat fertilitas. Usia kawin dini menjadi perhatian penentu kebijakan
serta perencana program karena berisiko tinggi terhadap kegagalan perkawinan,
kehamilan usia muda yang berisiko kematian maternal, serta risiko tidak siap mental
untuk membina perkawinan dan menjadi orangtua yang bertanggung jawab.
Konsep Perkawinan dalam Undang-Undang
Perkawinan no.1 Tahun 1974:
Perkawinan
adalah ikatan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk laki-laki minimal sudah berusia 19
tahun, dan untuk perempuan harus sudah berusia minimal 16 tahun. Jika menikah
dibawah usia 21 tahun harus disertai dengan ijin kedua atau salah satu orangtua
atau yang ditunjuk sebagai wali.
Konsep
perkawinan lebih difokuskan kepada keadaan dimana seorang laki-laki dan seorang
perempuan hidup bersama dalam kurun waktu yang lama. Dalam hal ini hidup
bersama dapat dikukuhkan dengan perkawinan yang syah sesuai dengan
undang-undang atau peraturan hukum yang ada (perkawinan de jure) ataupun tanpa
pengesahan perkawinan (de facto). Konsep ini dipakai terutama untuk mengkaitkan
status perkawinan dengan dinamika penduduk terutama banyaknya kelahiran yang
diakibatkan oleh panjang-pendeknya perkawinan atau hidup bersama ini. Norma dan
adat di Indonesia menghendaki adanya pengesahan perkawinan secara agama maupun
secara undang-undang. Tetapi untuk keperluan studi demografi, Badan Pusat
Statistik mendefinisikan seseorang berstatus kawin apabila mereka terikat dalam
perkawinan pada saat pencacahan, baik yang tinggal bersama maupun terpisah,
yang menikah secara sah maupun yang hidup bersama yang oleh masyarakat
sekelilingnya dianggap sah sebagai suami istri (BPS, 2000).
Definisi luas
tentang perkawinan ini digunakan oleh BPS karena dalam kenyataannya pada suatu
masyarakat sering diketemukan banyak pasangan laki-laki dan perempuan yang
hidup bersama tanpa ikatan perkawinan yang sah secara hukum. Seringkali hal ini
disebabkan karena persyaratan perkawinan yang sah memberatkan kedua belah pihak
yang hendak menikah, misalnya biaya perhelatan adat yang terlampau tinggi,
tidak mampu membayar biaya memproses perkawinan yang syah atau biaya mahar yang
tidak terjangkau oleh pasangan yang hendak menikah secara resmi.
Pertumbuhan penduduk masih menjadi masalah yang harus dikaji dengan
serius di sebagian besar negara-negara berkembang di dunia, hal ini dapat
berpengaruh ke berbagai faktor masyarakat negara tersebut, faktor yang sangat
vital yaitu tingkat pendidikan.
Banyak hal yang dapat dijadikan acuan atau tolak ukur pertumbuhan
penduduk di suatu negara, seperti kesejahteraan rakyat, persebaran penduduk,
serta pendapatan per kapita, semua hal itu dikaji berdasarkan kurun waktu
tertentu.
Hal yang paling dihindari dari suatu pertumbuhan penduduk yaitu
terjadinya ledakan penduduk, karena hal ini akan berdampak buruk kedepannya
terhadap masyarakat di suatu negara dan akan sulit untuk mengatasinya jika
tidak secara bersama semua pihak yang prihatin terhadap kondisi ini, hal ini
dapat diatasi dalam kurun waktu yang lama.
Faktor pendidikan juga menjadi masalah saat terjadi pertumbuhan
penduduk yang pesat atau ledakan penduduk, banyak anak yang putus sekolah karena
ekonomi keluarga yang kurang mampu, serta angka wajib belajar yang semakin
menurun.
Pembangunan
pendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan yang cukup besar. Wajib
Belajar 6 tahun, yang didukung pembangunan infrastruktur sekolah dan diteruskan
dengan Wajib Belajar 9 tahun adalah program sektor pendidikan yang diakui cukup
sukses. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi sekolah dasar dari 41
persen pada tahun 1968 menjadi 94 persen pada tahun 1996, sedangkan partisipasi
sekolah tingkat SMP meningkat dari 62 persen tahun 1993 menjadi 80 persen tahun
2002 (Oey-Gardiner, 2003). Tetapi dibalik keberhasilan program-program
tersebut, terdapat berbagai fenomena dalam sektor pendidikan. Kasus tinggal
kelas, terlambat masuk sekolah dasar dan ketidakmampuan untuk meneruskan
sekolah ke jenjang yang lebih tinggi merupakan hal yang cukup banyak menjadi
sorotan di dunia pendidikan. Kasus putus sekolah yang juga banyak terjadi
terutama di daerah pedesaan menunjukkan bahwa pendidikan belum banyak menjadi prioritas
bagi orang tua.
Rendahnya
prioritas tersebut antara lain dipicu oleh akses masyarakat terhadap pendidikan
yang masih relatif kecil, terutama bagi keluarga miskin yang tidak mampu
membiayai anak mereka untuk meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi.
Selain itu,
ujian akhir sekolah dianggap tidak dapat menjadi ukuran kemampuan murid. Nilai
rata-rata ujian akhir yang rendah seringkali diikuti oleh persentase kelulusan
yang cukup tinggi. Pada tahun ajaran 1998/1999, rata-rata nilai Ujian Akhir
Nasional (UAN) SMA di Indonesia adalah 3,99. Padahal nilai minimum untuk lulus
adalah 6. Tetapi pada periode tersebut, 97 persen siswa SMA dinyatakan lulus
(Oey-Gardiner, 2000). Hal ini menunjukkan bahwa nilai ujian akhir bukanlah
satu-satunya alat untuk menyaring kelulusan murid.
Migrasi manusia
adalah perpindahan oleh manusia dari satu tempat ke tempat lain, terkadang
melewati jarak yang panjang atau dalam jumlah yang besar. Migrasi adalah salah
satu dari empat proses evolusi. Migrasi dikatakan mempengaruhi pertumbuhan
penduduk dikaitkan dengan kepadatan penduduk akibat migrasi itu sendiri yang
kemudian menjadi tolak ukur terjadinya pertumbuhan penduduk.
Kepadatan
adalah hasil bagi jumlah objek terhadap luas daerah. Dengan demikian satuan
yang digunakan adalah satuan/luas daerah, misalnya: buah/m2. Sebagai contoh,
kepadatan penduduk disebut sebagai 65 orang/km2. Jumlah penduduk persatuan unit
wilayah
Kepadatan penduduk (KP) = Jumlah Penduduk suatu
wilayah / Luas Wilayah (km2/ha)
Overpopulasi dapat
menandakan populasi spesies manusia atau hewan tertentu lebih besar dari
kapasitas bawaan dari “ecological niche. Istilah ini menunjuk ke hubungan
antara jumlah populasi manusia dan planet Bumi. Overpopulasi bukan jumlah
manusia atau hewan, tetapi merupakan perbandingan antara jumlah manusia dan
sumber daya yang dibutuhkan untuk hidup. Dalam kata lain, sebuah rasio antara
populasi:jumlah sumber daya. Bila sebuah populasi berjumlah 10 orang, namun
hanya ada cukup makanan untuk 9 orang, maka keadaan ini disebut overpopulasi.
Bila populasi ada 100 milyar, sedangkan makanan cukup untuk 200 milyar, maka
ini bukan disebut overpopulasi. Sumber daya termasuk: air bersih, makanan,
rumah, kehangatan, tanah garap. Dan faktor lain yang lebih kecil: pekerjaan,
uang, pendidikan, bahan bakar, listrik, obat, saluran pembuangan, pengaturan
sampah, transportasi. Faktor yang tidak penting ini tidak dibutuhkan oleh hewan
dan manusia yang hidup primitif. Setiap tahun populasi dunia bertambah sekitar
80 juta. Sekitar setengah penduduk dunia hidup di negara dengan
“sub-replacement fertiliy dan pertumbuhan populasi dikarenakan imigrasi.
Hubungan antara
pertumbuhan penduduk dengan angka kemiskinan dan lapangan kerja:
Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu dan dapat dihitung sebagai
perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu
unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua
spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara
informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan
untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia. Ketika pertumbuhan penduduk
dapat melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan hasilnya berakhir
dengan kelebihan penduduk.
Pertumbuhan
penduduk, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah, dan sempitnya
kesempatan kerja merupakan akar permasalahan kemiskinan.
Di banyak
negara syarat utama bagi terciptanya penurunan kemiskinan adalah adanya
pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memang tidak cukup untuk mengentaskan
kemiskinan tetapi biasanya pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang sangat
dibutuhkan.Walaupun begitu pertumbuhan ekonomi yang bagus pun menjadi tidak
akan berarti bagi masyarakat miskin jika tidak diiringi dengan penurunan yang
tajam dalam pendistribusian atau pemerataannya. Kemiskinan terus menjadi
masalah fenomena sepanjang sejarah, kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak
tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai
kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke
pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan
perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi, dan yang lebih
parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan dan
sandang secara terbatas.
Kemiskinan telah membatasi hak
rakyat untuk:
- Memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan,
- Hak rakyat untuk memperoleh rasa aman,
- Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan hidup (sandang, pangan, dan papan) yang terjangka,
- Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pendidikan.
Salah satu
akar permasalahan kemiskinan yakni tingginya disparitas antar daerah akibat
tidak meratanya distribusi pendapatan, sehingga kesenjangan antara masyarakat
kaya dan masyarakat miskin di Indonesia semakin melebar. Pemerintah sendiri
selalu mencanangkan upaya penanggulangan kemiskinan dari tahun ketahun, namun
jumlah penduduk miskin tidak juga mengalami penurunan yang signifikan, walaupun
data di BPS menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah penduduk miskin, namun
secara kualitatif belum menampakkan dampak perubahan yang nyata malahan
kondisinya semakin memprihatinkan tiap tahunnya. Dengan terjadinya krisis
moneter pada tahun 1997 telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin kembali
membengkak dan kondisi tersebut diikuti pula dengan menurunnya pertumbuhan
ekonomi yang cukup tajam.
Berbagai
upaya penanggulangan kemiskinan yang telah diambil pemerintah berfokus pada :
- Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas melalui upaya padat karya, perdagangan ekspor serta pengembangan UMKM,
- Peningkatan akses terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan (KB, kesejahteraan ibu, infrastruktur dasar, pangan dan gizi
- Pemberdayaan masyarakat lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang bertujuan untuk membuka kesempatan berpartisipasi bagi masyarakat miskin dalam proses pembangunan dan meningkatkan peluang dan posisi tawar masyarakat miskin, serta
- Perbaikan sistem bantuan dan jaminan sosial lewat Program Keluarga Harapan (PKH).
Salah satu
aspek untuk melihat kinerja perekonomian adalah seberapa efektif penggunaan
sumber-sumber daya yang ada sehingga lapangan pekerjaan merupakan concern dari
pembuat kebijakan.
Pertumbuhan
ekonomi biasanya diikuti oleh terciptanya lapangan pekerjaan yang baru. Ketika
ekonomi bertumbuh, berarti terdapat pertumbuhan produksi barang dan jasa.
Ketika hal ini terjadi maka kebutuhan akan tenaga kerja untuk memproduksi
barang dan jasa pun akan tumbuh.
Pertumbuhan
ekonomi dan pengangguran memiliki hubungan yang erat karena penduduk yang
bekerja berkontribusi dalam menghasilkan barang dan jasa sedangkan pengangguran
tidak memberikan kontribusi. Studi yang dilakukan oleh ekonom Arthur Okun
mengindikasikan hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan
pengangguran, sehingga semakin tinggi tingkat pengangguran, semakin rendah
tingkat pertumbuhan ekonomi.
Jadi hubungan
antara pertumbuhan penduduk dengan lapangan pekerjaan dan kemiskinan adalah
sangat berkaitan. Mulai dari angka penduduk yang meningkat terutama pada negara
Indonesia, lalu menghasilkan berbagai faktor dari pihak manapun mulai dari
meningkatnya masyarakat yang kelaparan karena masyarakat tidak mampu untuk
memenuhi kebutuhannya, hingga pada lapangan pekerjaan yang semakin sempit yang
akan menyebabkan terjadinya pengangguran jika Pemerintah hanya membuka lowongan
pekerjaan bagi yang sudah menginjak bangku sekolah atau bagi yang mempunyai
keterampilan khusus. Itu sangat tidak adil jika dibandingkan dengan masyarakat
yang hanya bisa bertani atau memulung sampah atau yang mempunyai profesi kecil
di daerah-daerah kalangan masyarakat menengah ke bawah.
C. Pengangguran
Pengangguran
atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali,
sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau
seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran
umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak
sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.
Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan
adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang
sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan
masalah-masalah sosial lainnya.
Statistik
pengangguran
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan
jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran
konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan.
Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang
buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu
tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan
sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka
panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal
istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya
bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
Angkatan
kerja merupakan jumlah total dari pekerja dan pengangguran, sedangkan
pengangguran merupakan persentase angkatan kerja yang menganggur.
Grafik di atas menunjukkan bahwa
angka pengangguran di Indonesia mengalami ratifikasi atau naik turun. Ini
berarti Indonesia sudah cukup untuk bisa untuk mengentaskan pengangguran dan
mulai menciptakan lapangan kerja sendiri atau usaha untuk meningkatkan
pendapatan negara.
Jumlah
pengangguran biasanya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta tidak
didukung oleh tersedianya lapangan kerja baru atau keengganan untuk menciptakan
lapangan kerja (minimal) untuk dirinya sendiri atau memang tidak memungkinkan
untuk mendapatkan lapangan kerja atau tidak memungkinkan untuk menciptakan
lapangan kerja. Sebenarnya, kalau seseorang menciptakan lapangan kerja,
menciptakan lapangan kerja (minimal) untuk diri sendiri akan berdampak positif
untuk orang lain juga, misalnya dari sebagian hasil yang diperoleh dapat digunakan
untuk membantu orang lain walau sedikit saja.
Jenis
pengangguran
Ø Berdasarkan jam
kerja
Berdasarkan jam kerja, pengangguran
dikelompokkan menjadi 3 macam:
- Pengangguran terselubung (disguised unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
- Pengangguran setengah menganggur (under unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
- Pengangguran terbuka (open unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Ø Berdasarkan
penyebab terjadinya
Berdasarkan
penyebab terjadinya, pengangguran dikelompokkan menjadi 9 macam:
- Pengangguran friksional (frictional unemployment) adalah pengangguran karena pekerja menunggu pekerjaan yang lebih baik.
- Pengangguran struktural (Structural unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.
- Pengangguran teknologi (Technology unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan perkembangan/pergantian teknologi. Perubahan ini dapat menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa menggunakan teknologi yang diterapkan.
- Pengangguran kiknikal adalah pengangguran yang disebabkan kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu menampung semua pekerja yang ada. Contoh penyebabnya, karena adanya perusahaan lain sejenis yang beroperasi atau daya beli produk oleh masyarakat menurun.
- Pengangguran musiman adalah pengangguran akibat siklus ekonomi yang berfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada bidang pertanian dan perikanan. Contohnya adalah para petani dan nelayan.
- Pengangguran setengah menganggur adalah pengangguran di saat pekerja yang hanya bekerja di bawah jam normal (sekitar 7-8 jam per hari).
- Pengangguran keahlian adalah pengangguran yang disebabkan karena tidak adanya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian. Pengangguran jenis ini disebut juga pengangguran tidak kentara dikarenakan mempunyai aktivitas berdasarkan keahliannya tetapi tidak menerima uang. Contohnya adalah anak sekolah (siswa) atau mahasiswa. Mereka adalah ahli pencari ilmu, tetapi mereka tidak menghasilkan uang dan justru harus mengeluarkan uang atau biaya, misalnya harus membeli paket buku LKS atau membayar biaya kursus yang diselenggarakan oleh sekolahnya sendiri. Contoh lainnya adalah (misalnya) seorang pelatih pencak silat yang tidak meminta gaji dari organisasinya. Pengangguran tidak kentara ini, juga bisa disebut sebagai pengangguran terselubung.
- Pengangguran total adalah pengangguran yang benar-benar tidak mendapat pekerjaan, karena tidak adanya lapangan kerja atau tidak adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja.
- Pengangguran unik adalah pekerja yang menerima gaji secara rutin tanpa pemotongan, tetapi di tempat kerjanya hanya sering diisi dengan bercerita sesama pekerja karena minimnya pekerjaan yang harus dikerjakan. Hal ini disebabkan karena tempat kerjanya kelebihan tenaga kerja. Pengecualian untuk pegawai atau petugas pemadam kebakaran atau penanggulangan bencana alam. Pegawai atau petugas seperti demikian tenaganya harus disimpan dan dipersiapkan secara khusus jika ada pelatihan atau simulasi atau harus diterjunkan pada situasi sebenarnya.
v Penyebab
pengangguran
Pengangguran
umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran
seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan
adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang
sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat
pengangguran dapat dihitung dengan membandingkan jumlah pengangguran dengan
jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan
pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang
menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang
berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk
terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat
pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan
sosial sehingga mengganggu proses pembangunan.
Akibat
pengangguran
§ Bagi
perekonomian negara
- Penurunan pendapatan perkapita.
- Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.
- Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.
- Dapat menambah hutang negara.
§ Bagi masyarakat
- Pengangguran merupakan beban psikologis dan psikis.
- Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan, karena tidak digunakan apabila tidak bekerja.
- Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik.
|
Ranking
berdasarkan entitas |
Entitas
|
Tingkat
pengangguran (%) |
Sumber / tanggal dari
informasi |
|
1
|
0.00
|
perkiraan
1996.
|
|
|
1
|
0.00
|
2005
|
|
|
1
|
0.00
|
||
|
4
|
0.90
|
Maret 2006
est.
|
|
|
5
|
1.20
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
6
|
1.30
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
6
|
1.30
|
September
2002
|
|
|
8
|
1.50
|
perkiraan
Desember 2006
|
|
|
9
|
1.60
|
2005
|
|
|
10
|
1.70
|
1999
|
|
|
11
|
1.90
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
12
|
2.00
|
perkiraan
2001 .
|
|
|
12
|
2.00
|
perkiraan
1992.
|
|
|
12
|
2.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
12
|
2.00
|
2004
|
|
|
16
|
2.10
|
perkiraan
2004.
|
|
|
16
|
2.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
16
|
2.10
|
2006
|
|
|
19
|
2.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
19
|
2.20
|
perkiraan
2004.
|
|
|
21
|
2.40
|
2001
|
|
|
21
|
2.40
|
perkiraan
2005.
|
|
|
23
|
2.50
|
perkiraan
2006.
|
|
|
23
|
2.50
|
2004
|
|
|
23
|
2.50
|
perkiraan
2000.
|
|
|
26
|
2.70
|
perkiraan
2006.
|
|
|
26
|
2.70
|
2006
|
|
|
28
|
2.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
29
|
3.00
|
2006
|
|
|
30
|
3.20
|
perkiraan
2005.
|
|
|
30
|
3.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
30
|
3.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
33
|
3.30
|
perkiraan
Desember 2006 .
|
|
|
33
|
3.30
|
2005
|
|
|
33
|
3.30
|
perkiraan
2006.
|
|
|
36
|
3.50
|
perkiraan
2006.
|
|
|
36
|
3.50
|
perkiraan
2006.
|
|
|
38
|
3.60
|
1997
|
|
|
39
|
3.70
|
perkiraan
2006.
|
|
|
40
|
3.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
41
|
3.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
42
|
3.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
43
|
3.80
|
2004
|
|
|
44
|
3.90
|
2001
|
|
|
45
|
3.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
46
|
4.00
|
2006
|
|
|
47
|
4.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
48
|
4.10
|
2005
|
|
|
49
|
4.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
50
|
4.20
|
2005
|
|
|
51
|
4.20
|
perkiraan
2005.
|
|
|
52
|
4.30
|
perkiraan
2006.
|
|
|
53
|
4.40
|
2004
|
|
|
54
|
4.50
|
2006
|
|
|
55
|
4.50
|
1997
|
|
|
56
|
4.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
57
|
4.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
58
|
4.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
59
|
4.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
60
|
5.30
|
perkiraan
2006.
|
|
|
61
|
5.50
|
||
|
62
|
5.50
|
perkiraan
2006.
|
|
|
63
|
5.60
|
||
|
64
|
5.60
|
perkiraan
2006.
|
|
|
65
|
5.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
66
|
6.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
67
|
6.00
|
perkiraan
1998.
|
|
|
68
|
6.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
69
|
6.20
|
2004
|
|
|
70
|
6.40
|
perkiraan
2006.
|
|
|
71
|
6.50
|
perkiraan
Desember 2006.
|
|
|
72
|
6.50
|
perkiraan
2006.
|
|
|
73
|
6.60
|
perkiraan
2006.
|
|
|
74
|
6.60
|
perkiraan
2006.
|
|
|
75
|
6.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
76
|
6.80
|
perkiraan
2005.
|
|
|
77
|
6.90
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
78
|
7.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
79
|
7.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
80
|
7.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
81
|
7.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
82
|
7.30
|
perkiraan
2005.
|
|
|
83
|
7.40
|
perkiraan
November 2006.
|
|
|
84
|
7.40
|
perkiraan
2006.
|
|
|
85
|
7.40
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
86
|
7.60
|
perkiraan
2006.
|
|
|
87
|
7.60
|
perkiraan
2006
|
|
|
88
|
7.60
|
perkiraan
Januari 2007.
|
|
|
89
|
7.60
|
1999
|
|
|
90
|
7.70
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
91
|
7.80
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
92
|
7.80
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
93
|
7.80
|
2006
|
|
|
94
|
7.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
95
|
8.00
|
2002
|
|
|
96
|
8.00
|
perkiraan
2001 .
|
|
|
97
|
8.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
98
|
8.10
|
perkiraan
Oktober 2006.
|
|
|
99
|
8.40
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
—
|
8.50
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
100
|
8.70
|
perkiraan
Desember 2006 .
|
|
|
101
|
8.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
102
|
8.90
|
perkiraan
Oktober 2006 .
|
|
|
103
|
9.20
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
104
|
9.30
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
105
|
9.40
|
2006
|
|
|
106
|
9.40
|
perkiraan
2005.
|
|
|
107
|
9.40
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
108
|
9.50
|
2004
|
|
|
109
|
9.60
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
110
|
9.60
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
111
|
9.60
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
112
|
10.00
|
perkiraan
1997.
|
|
|
113
|
10.20
|
perkiraan
kuartal ketiga, 2006 .
|
|
|
114
|
10.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
115
|
10.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
116
|
10.20
|
perkiraan
2006.
|
|
|
117
|
10.20
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
118
|
10.30
|
perkiraan
2006.
|
|
|
119
|
10.30
|
1999
|
|
|
120
|
10.60
|
perkiraan
2006.
|
|
|
121
|
10.70
|
perkiraan
2003 .
|
|
|
122
|
10.80
|
perkiraan
2006.
|
|
|
123
|
11.00
|
perkiraan
2001 .
|
|
|
124
|
11.10
|
perkiraan
2006.
|
|
|
125
|
11.30
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
126
|
11.40
|
perkiraan
2002 .
|
|
|
127
|
11.70
|
2005
|
|
|
128
|
12.00
|
2001
|
|
|
129
|
12.00
|
perkiraan
2004.
|
|
|
130
|
12.00
|
2002
|
|
|
131
|
12.50
|
2000
|
|
|
132
|
12.50
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
133
|
12.50
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
134
|
12.60
|
perkiraan
2004.
|
|
|
135
|
13.00
|
1998
|
|
|
136
|
13.00
|
perkiraan
2004 .
|
|
|
137
|
13.00
|
perkiraan
Tahun anggaran 03/04 .
|
|
|
138
|
13.10
|
2005
|
|
|
139
|
13.80
|
perkiraan
September 2006 .
|
|
|
140
|
13.90
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
141
|
14.00
|
perkiraan
1998.
|
|
|
142
|
14.60
|
perkiraan
2001.
|
|
|
143
|
14.90
|
perkiraan
November 2006.
|
|
|
144
|
15.00
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
145
|
15.00
|
perkiraan
2004 .
|
|
|
146
|
15.00
|
perkiraan
2007 .
|
|
|
147
|
15.00
|
perkiraan
2001.
|
|
|
148
|
15.20
|
2003
|
|
|
149
|
15.40
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
150
|
15.70
|
perkiraan
2006.
|
|
|
151
|
16.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
152
|
17.00
|
perkiraan
2002.
|
|
|
153
|
17.10
|
2004
|
|
|
154
|
17.20
|
perkiraan
2006 .
|
|
|
155
|
18.00
|
perkiraan
2004.
|
|
|
156
|
18.70
|
perkiraan
2002 .
|
|
|
157
|
20.00
|
perkiraan
1996 .
|
|
|
158
|
20.00
|
perkiraan
1997.
|
|
|
159
|
20.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
160
|
20.00
|
perkiraan
2003.
|
|
|
161
|
20.00
|
perkiraan
2004.
|
|
|
162
|
20.30
|
2005
|
|
|
163
|
20.30
|
2005
|
|
|
164
|
21.00
|
perkiraan
2000.
|
|
|
165
|
21.00
|
perkiraan
1997.
|
|
|
166
|
21.00
|
perkiraan
1997.
|
|
|
167
|
22.00
|
perkiraan
2000.
|
|
|
168
|
23.00
|
perkiraan
2000
|
|
|
169
|
23.80
|
2004
|
|
|
170
|
25.00
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
171
|
25.40
|
2005
|
|
|
172
|
25.50
|
perkiraan
2006.
|
|
|
173
|
27.70
|
2005
|
|
|
174
|
27.90
|
perkiraan
2006.
|
|
|
175
|
29.80
|
2005
|
|
|
176
|
30.00
|
perkiraan
2001.
|
|
|
177
|
30.00
|
perkiraan
1998 .
|
|
|
178
|
30.00
|
perkiraan
2004 .
|
|
|
—
|
30.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
179
|
30.90
|
perkiraan
2000.
|
|
|
180
|
31.60
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
181
|
35.00
|
perkiraan
2003.
|
|
|
182
|
36.00
|
perkiraan
September 2006 .
|
|
|
183
|
40.00
|
perkiraan
2005 .
|
|
|
184
|
40.00
|
perkiraan
2006.
|
|
|
185
|
40.00
|
perkiraan
2001.
|
|
|
186
|
42.00
|
perkiraan
2004 .
|
|
|
187
|
45.00
|
2002
|
|
|
188
|
45.50
|
perkiraan 31
Desember 2004 .
|
|
|
189
|
48.00
|
perkiraan
2001 .
|
|
|
190
|
50.00
|
perkiraan
2004 .
|
|
|
191
|
50.00
|
perkiraan
2000.
|
|
|
192
|
50.00
|
perkiraan
2001
|
|
|
193
|
60.00
|
perkiraan
2000
|
|
|
194
|
60.00
|
perkiraan
2004
|
|
|
195
|
80.00
|
perkiraan
2005
|
|
|
196
|
85.00
|
perkiraan
2003
|
|
|
197
|
90.00
|
perkiraan
2004
|
Kebijakan-kebijakan
pengangguran
Adanya bermacam-macam pengangguran membutuh-kan
cara-cara mengatasinya yang disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi,
yaitu sebagai berikut:
ü Cara mengatasi
pengangguran struktural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara
yang digunakan adalah:
- Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
- Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke tempat dan sektor ekonomi yang kekurangan.
- Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan) kerja yang kosong, dan
- Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.
ü Cara mengatasi
pengangguran friksional
Untuk mengatasi pengangguran secara umum antara
lain dapat digunakan cara-cara sebagai berikut:
- Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
- Deregulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
- Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industry.
- Menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya.
- Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta.
ü Cara mengatasi
pengangguran musiman
Jenis pengangguran ini bisa diatasi dengan cara
sebagai berikut:
- Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor lain.
- Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
ü Cara mengatasi
pengangguran siklis
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini antara
lain dapat digunakan cara-cara sebagai berikut:
- Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa.
- Meningkatkan daya beli masyarakat.
D. Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana
terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian
, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan
oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang
memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya
melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya
dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai
cara. Pemahaman utamanya mencakup:
- Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
- Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
- Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang.
Peta dunia
memperlihatkan persentase manusia yang hidup di bawah batas
kemiskinan nasional.
Perhatikan bahwa garis batas ini sangat berbeda-beda menurut masing-masing
negara, sehingga kita sulit membuat perbandingan.
·
Mengukur kemiskinan
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam
dua kategori , yaitu Kemiskinan
absolut dan Kemiskinan
relatif. Kemiskinan
absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh
waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah
persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan
tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan
absolut
sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah
untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001
1,1 miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang
didunia mengonsumsi kurang dari $2/hari." Proporsi penduduk negara
berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990
menjadi 21% pada 2001. Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk
dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang
separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu
tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling
parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di
setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan
ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi
kolektif masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam
pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma
ini, negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.
·
Kemiskinan dunia
Deklarasi Copenhagen menjelaskan kemiskinan absolut sebagai
"sebuah kondisi yang dicirikan dengan kekurangan parah kebutuhan dasar
manusia, termasuk makanan, air minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi."
Bank Dunia menggambarkan "sangat miskin" sebagai orang yang
hidup dengan pendapatan kurang dari PPP$1 per hari, dan "miskin"
dengan pendapatan kurang dari PPP$2 per hari. Berdasarkan standar
tersebut, 21% dari penduduk dunia berada dalam keadaan "sangat
miskin", dan lebih dari setengah penduduk dunia masih disebut
"miskin", pada 2001.
·
Penyebab kemiskinan
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
- penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
- penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
- penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
- penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.
- penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa
kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki
jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja
miskin; yaitu,
orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun
masih gagal melewati atas garis kemiskinan.
” HUBUNGAN
ANTARA PENGANGGURAN SERTA KEMISKINAN SEBAGAI FAKTOR PERTUMBUHAN PENDUDUK
TERHADAP PEREKONOMIAN DI INDONESIA ”
Kemiskinan
dan pengangguran menjadi masalah yang penting saat ini di Indonesia, sehingga
menjadi suatu fokus perhatian bagi pemerintah Indonesia. Masalah kemiskinan ini
sangatlah kompleks dan bersifat multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek
sosial, ekonomi, budaya, dan aspek lainnya. Kemiskinan terus menjadi masalah
fenomenal di belahan dunia, khususnya Indonesia yang merupakan Negara
berkembang. Kemiskinan telah membuat jutaan anak tidak bisa mengenyam
pendidikan, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan investasi,
dan masalah lain yang menjurus ke arah tindakan kekerasan dan kejahatan.
Kemiskinan yang terjadi dalam suatu negara memang perlu dilihat sebagai suatu
masalah yang sangat serius, karena saat ini kemiskinan, membuat banyak
masyarakat Indonesia mengalami kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Persoalan kemiskinan ini lebih dipicu karena masih banyaknya masyarakat yang
mengalami pengangguran dalam bekerja. Pengangguran yang dialami sebagian
masyarakat inilah yang membuat sulitnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
sehingga angka kemiskinan selalu ada.
Kemiskinan
pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problem yang muncul dalam kehidupan
masyarakat, khususnya masyarakat di Negara Negara berkembang masalah kemiskinan
ini menuntut adanya upaya pemecahan masalah secara berencana ,terintegrasi dan
menyeluruh dalam waktu yang singkat, upaya pemecahan kemiskinan tersebut
sebagai upaya untuk mempercepat proses pembangunan yang selama ini sedang di
lakukan Istilah kemiskinan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang asing
dalam kehidupan kita, kemiskinan yang di maksud disini adalah kemiskinan
ditinjau dari sisi material (ekonomi). Menurut Prof.Dr.Emil Salim yang di
maksud dengan kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang di lukiskan
sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok . Atau
dengan istilah lain kemiskinanitu merupakan ketidak mampuan dalam memenuhi
kebutuhan pokok sehingga mengalami keresahan ,kesengsaraan atau kemelaratan
dalam setiap langkah hidupnya.
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari
perilaku manusia di dalam upaya atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
yang relatif tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas dan
masingmasing sumber daya mempunyai alternatif penggunaan (opportunity cost).
Sehingga masyarakat dapat menekan kebutuhannya dengan adanya faktor-faktor
tertentu.
Secara
garis besar ilmu ekonomi dapat dipisahkan menjadi dua yaitu a. Ilmu Ekonomi
Makro Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat
(keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain : pendapatan nasional,
kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi,
pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional. Serta memperlajari
adanya interaksi antara faktor-faktor atau variabel dalam perekonomian rumah tangga,
pasar dan perusahaan.
Ilmu
Ekonomi Mikro Ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam
lingkup kecil misalnya perusahaan dan rumah tangga. Dalam ekonomi mikro ini
dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya
sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu
yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan
individuindividu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro. Serta
bagaimana seorang produsen dapat berupaya memenuhi kebutuhan konsumen yang ada
agar nantinya para produsen dapat memaksimalkan keuntungan.
Secara
garis besar Ilmu ekonomi makro mempelajari masalah-masalah ekonomi utama
sebagai berikut :
a. Sejauh mana
berbagai sumber daya telah dimanfaatkan di dalam kegiatan ekonomi. Apabila
seluruh sumber daya telah dimanfaatkan keadaan ini disebut full employment
(penuhnya tenaga kerja). Sebaliknya bila masih ada sumber daya yang belum
dimanfaatkan berarti perekonomian dalam keadaan under employment atau terdapat
pengangguran.
b. Sejauh mana
perekonomian dalam keadaan stabil khususnya stabilitas di bidang moneter.
Apabila nilai uang cenderung menurun dalam jangka panjang berarti terjadi
inflasi. Sebaliknya jika mata uang meningkat maka terjadi deflasi.
c. Sejauh mana
perekonomian mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan tersebut disertai dengan
distribusi pendapatan yang membaik antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan
dalam distribusi pendapatan terdapat trade off maksudnya bila yang satu membaik
yang lainnya cenderung memburuk.
Pengangguran
yakni semua orang dalam referensi waktu tertentu, yaitu pada usia angkatan
kerja yang tidak bekerja, baik dalam arti mendapatkan upah atau bekerja
mandiri, kemudian mencari pekerjaan, dalam arti mempunyai kegiatan aktif dalam
mencari kerja tersebut.
Kemiskinan
yaitu suatu keadaan dimana masyarakat mengalami kekurangan pendapatan sehingga
sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Terdapat
hubungan antara tingkat pengganguran yang ada dilingkungan masyarakt serta
kemiskinan (akibat dari pengganguran) terhadap perekonomian makro di Indonesia.
Dengan adanya kenaikan tingkat pengganguran dilingkungan masyarakt yang
menyebabkan makin banyaknya kemiskinan memaksa pemerintah untuk melakukan
beberapa kebijakan, guna mengurangi adanya tingkat pengganguran dan juga
kemiskinan yang ada.
Ekonomi makro atau makroekonomi adalah studi
tentang ekonomi secara keseluruhan. Ekonomi makro menjelaskan mengenai
perubahan ekonomi yang memengaruhi banyak rumah tangga, perusahaan, dan pasar.
Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi
target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga,
tenaga kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan. Ilmu
ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat
(keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain: pendapatan nasional,
kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi,
pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional. Sementara ilmu
ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil
misalnya perusahaan, rumah tangga. Inflasi adalah naiknya harga-harga komoditi
yang disebabkan karena tidak singkronnya antara program sistem penggandaan
komoditi dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat. Inflasi
bukanlah masalah yang terlalu berarti jika keadaan tersebut diiringi oleh
tersedianya komoditi yang diperlukan secara cukup dan ditimpali dengan naiknya
tingkat pendapatan yang lebih besar. Biaya produksi untuk menghasilkan komoditi
semakin tinggi yang menyebabkan harga jualnya menjadi relatif tinggi, disisi
lain tingkat pendapatan masyarakat relatif tetap bahkan lebih kecil. Maka,
barulah inflasi ini menjadi membahayakan jika berlangsung dalam waktu yang
relatif lama. Pengangguran terjadi disebabkan karena adanya kesenjangan antara
penyediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang mencari pekerjaan.
Pengangguran bisa juga terjadi meskipun jumlah kesempatan kerja tinggi akan
tetapi terbatasnya informasi, perbedaan dasar keahlian yang tersedia dari yang
dibutuhkan atau bahkan dengan sengaja memilih untuk menganggur. Kemiskinan
yakni keadaan dimana seseorag terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun
sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Hubungan
Tingkat Kemiskinan Dengan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan
indikator untuk melihat keberhasilan dan merupakan syarat bagi pengurangan
tingkat kemiskinan. Syaratnya adalah hasil dari pertumbuhan ekonomi tersebut
menyebar disetiap golongan masyarakat, termasuk di golongan penduduk miskin.
Riset menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi
dan tingkat kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan tingkat
kemiskinan. Hubungan ini menunjukkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi
untuk menurunkan tingkat kemiskinan.
Hubungan
Tingkat Kemiskinan Dengan Pengangguran Efek buruk dari pengangguran adalah
mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat
kemakmuran yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan
masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak
dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan. Apabila pengangguran di
suatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan
menimbulkan efek yang buruk bagi kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek
pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.
Penyebab
Masalah Pengangguran Dan Kemiskinan Pengangguran adalah istilah untuk orang
yang tidak bekerja sama sekali sedang mencari kerja, bekerja kurang dari 2 hari
dalam seminggu atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding
dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran sering
kali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran,
produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat
menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah lainnya. Dinegara-negara
berkembang seperti Indonesia dikenal istilah pengangguran terselubung, dimana
pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga sedikit dilakukan oleh
lebih banyak orang. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah
mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah penganggur
dan setengah penganggur yang besar pendapatanrelatif rendah dan kurang merata.
Sebaliknya pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan sumber daya dan
potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama
kemiskinan, menghambat pembangunan dalam jangka panjang. Pembangunan bangsa
Indonesia kedepan sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusia Indonesia
yang sehat fisik dan mental serta mempunyai ketrampilan dan keahlian kerja,
sehingga mampu membangun keluarga yang bersangkutan untuk mempunyai pekerjaan
dan penghasilan yang tetap dan layak sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup,
kesehatan, pendidikan anggota keluarganya. Pengangguran di Indonesia terjadi
disebabkan antara lain yaitu karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih
kecil dari pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan
pasar kerja. Selain itu juga karena efektifnya informasi pasar kerja bagi para
pencari kerja. Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya
pemutusan hubungan kerja disebabkan antara lain; perusahaan menutup atau mengurangi
bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif,
peraturan yang menghambat investasi, hambatan dalam proses ekspor impor.
Upaya
Pembebasan Kemiskinan Melalui Pemberdayaan Merujuk pada berbagai konsepsi
seperti dijelaskan di atas, maka pemberdayaan merupakan suatu sistem
pembangunan yang berorientasi pada manusia, dengan mengedepankan azas
partisipasi (participatory), jaringan kerja, kemandirian dan keadilan
(equality) yang dalam prosesnya memberikan sesuatu kemudahan (akses) sehingga
pada akhirnya dicapai kemajuan dan kemandirian. Proses pemberdayaan memerlukan
tindakan aktif subyek untuk mengakui daya yang dimiliki obyek dengan memberinya
kesempatan untuk mengembangkan diri sebelum akhirnya obyek akan beralih fungsi
menjadi subyek yang baru. Karena proses tersebut didukung oleh faktor atau
stimulus dari luar, maka subyek disebut sebagai faktor eksternal. Selain itu,
faktor internal yang mementingkan tindakan aktif obyek atau masyarakat miskin
sendiri juga merupakan prasyarat penting yang dapat mendukung proses
pemberdayaan yang efektif. Proses pemberdayan dapat dilakukan secara individual
maupun kelompok (kolektif). Tetapi karena proses ini merupakan proses wujud
perubahan sosial atau status hirarkhi lain yang dicirikan dengan adanya
polarisasi ekonomi, maka kemampuan individu “senasib’’ untuk saling berkumpul
dalam suatu kelompok cenderung dinilai sebagai bentuk pemberdayaan yang paling
efektif (Freidmeann, 1993:3). Di dalam kelompok terjadi suatu dialogical
encounter yang menumbuhkan dan memperkuat kesadaran dan solidaritas kelompok.
Anggota kelompok menumbuhkan identitas seragam dengan mengenali kepentingan
mereka bersama. Dalam pendekatannya, pemberdayaan terdapat antara lain dua
aspek penting, yaitu partisipatif dan terdesentralisasi. Aspek partisipatif
melibatkan masyarakat, khususnya kelompok sasaran dalam pengambilan keputusan
sejak dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, hingga pemanfaatan
hasilhasilnya. Sedangkan aspek terdesentralisasi mementingkan penurunan wewenang
pembuatan keputusan perencanaan dan pelaksana pembangunan kepada pemerintah
desa yang terdekat dengan penduduk miskin. Penduduk miskinlah yang paling
mengetahui usaha yang dapat mereka lakukan dan kebutuhan mana yang paling
mendesak. Di samping itu pembentukan kelompok merupakan fase awal pemberdayaan.
Artinya masyarakat miskin diberi kebebasan untuk membentuk dan beraktivitas
dalam kelompok yang diinginkan. Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan secara
umum dapat dipilah dalam 3 (tiga) kelompok , yaitu : Pertama, kebijaksanaan
yang secara tidak langsung mengarah pada sasaran tetapi memberikan dasar
tercapainya suasana yang mendukung kegiatan sosial ekonomi. Dalam kerangka
kebijaksanaan ini pula termasuk penciptaan ketentraman suasana sosial dan
politik, penciptaan iklim usaha dan stabilitas ekonomi melalui pengelolaan
ekonomi makro yang berhati-hati, pengendalian pertumbuhan penduduk dan
pelestarian lingkangan hidup. Kedua kebijaksanaan yang secara langsung mengarah
pada peningkatan ekonomi kelompok sasaran. Kebijaksanaan langsung diarahkan
pada peningkatan akses terhadap prasarana dan sarana yang mendukung penyediaan
kebutuhan dasar berupa pangan, sandang dan perumahan, kesehatan dan pendidikan,
peningkatan produktivitas dan pendapatan, khususnya masyarakat berpendapat
rendah. Ketiga kebijaksanaan khusus menjangkau masyarakat miskin melalui upaya
khusus. Kebijaksanaan khusus diutamakan pada penyiapan penduduk miskin untuk
dapat melakukan kegiatan sosial ekonomi sesuai dengan budaya setempat. Upaya
ini pada dasarnya mendorong dan memperlancar proses transisi dari kehidupan
subsisten menjadi kehidupan pasar.
Program
Pemerintah Dalam Mengatasi Kemiskinan Dan Pengangguran Krisis ekonomi saat ini
telah menggugah pemerintah dan berbagai lembaga pembangunan internasional
seperti Bank Dunia dan lain-lain untuk berperan aktif
mengentaskan
kemiskinan dan pengagguran rakyat melalui berbagai program baru seperti padat
karya. Jaring pengaman sosial/JPS (Social Safety Net), proyek penanggulangan
kemiskinan diperkotaan (Urban Poverty Crisis Alleviation), program untuk anak
jalanan, dan masih banyak bantuan-bantuan dari pemerintah kepada rakyat,
seperti BLT (bantuan langsung tunai) , BOS (bantuan operasional sekolah) yang
dilakukan untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia, karena anak-anak
Indonesia diwajibkan mengenyam pendidikan minimal 9 tahun yang biasanya dikenal
sebagai wajib belajar 9 tahun. Koperasi banyak di dirikan oleh pemerintah di
daerah-daerah dengan tujuan agar rakyat mampu membuat usaha mikro ataupun makro
dilingkungan tempat tinggalnya. Selain itu program yang lain yang dilakukan
oleh pemerintah adalah dengan memberikan JAMPERSAL (jaminan persalinan)
diberbagai puskesmas dengan tujuan untuk memudahkan proses persalinan pada
warga yang kurang mampu. Pemerintah juga memberlakukan program KB dengan tujuan
untuk mengurangi tingkat kepadatan penduduk di Indonesia. Dan masih banyak
lainnya program yang diberikan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ekonomi
terutama mengenai masalah kemiskinan dan pengangguran yang merupakan masalah
yang sulit untuk diberantas.
Kemiskinan
itu pada hakikatnya berkaitan langsung dengan sistem kemasyrakatan secara
menyeluruh. Dan bukan hanya ekonomi atau politik, social dan budaya. Sehingga
penayangannya harus berlangsung secara menyweluruh dengan suatu strategi yang
mengandung semua aspek dan perilaku kehidupan manusia bisa dimulai dengan resep
ekonomi, kemudian di tunjang oleh tindakan social dan politik yang nyata. Namun
demikian, dalam kenyataannya bahwa mengeluh memerangi kemiskinan seringkali
menjadi suatu masalah perdebatan yang ada kaitannya dengan masalah tersebut,
yaitu berkenaan dengan cara dan sasarannya.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Kesimpulan
lain yang dapat dipetik dari masalah diatas adalah sebagai berikut:
1. Banyak
program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah perekonomian yakni
mengenai masalah kemiskinan dan pengangguran namun pada kenyataannya hasil yang
dicapai tidak sesuai yang diharapkan.
2. Banyak
pengangguran yang ada di Indonesia karena kurangnya lapangan pekerjaan yang ada
dan ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia
yang menyebabkan bertambahnya kemiskinan di Indonesia.
3. Pembangunan
di bidang ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah pada dewasa ini di sektor
pertanian, perikanan, perkebunan, industri dan pertambangan, hakekatnya
ditujukan selain untuk mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi, juga
dimaksudkan untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan.
4. Dampak
pengangguran terhadap perekonomian suatu Negara tujuan akhir pembangunan
ekonomi suatu Negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakatdan
pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat
pengangguran disuatu Negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat
pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan.
5. Kondisi
kemiskinan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan
rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan,
terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu
layanan pendidikan. Oleh karena itu, perlu mendapat penanganan khusus dan
terpadu dari pemerintah bersamasama dengan masyarakat.
6. Faktor
penyebab kemiskinan ada dua, yaitu faktor alami dan faktor buatan. Selain kedua
faktor tersebut ada faktor lain yang menimbulkan kemiskinan, yaitu:
a. Kurang
tersedianya sarana yang dapat dipakai keluarga miskin secara layak.
b.Kurangnya
dukungan pemerintah sehingga keluarga miskin tidak mendapatkan haknya atas
pendidikan dan kesehatan yang layak.
c. Rendahnya
minat masyarakat miskin untuk berjuang mencapai haknya .
d. Kurangnya
dukungan pemerintah dalam memberikan keahlian.
e. Wilayah
Indonesia yang sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah untuk menjangkau
seluruh wilayah dengan perhatian yang sama.
f. Keberhasilan
program menurunkan kemiskinan tidak akan tercapai tanpa adanya kerja-sama yang
baik dan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
B.
SARAN
Saran
Dari kesimpulan diatas, penulis memberikan beberapa saran antara lain:
1.
Program pengentasan kemiskinan dan pengangguran
sebaiknya tidak dikerjakan oleh pemerintah sendiri, namun golongan yang mampu
juga secara sukarela diharapkan dapat berkontribusi mengatasi masalah
kemiskinan dan pengangguran yang terjadi di negeri ini.
2.
Untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran,
yang perlu dilakukan adalah memberdayakan masyarakat . ini akan lebih efektif
dibandingkan hanya memberi bantuan yang sifatnya sesaat.
3.
Pemerintah sebaiknya menjalankan program
terpadu secara serius dan bertanggung jawab agar dapat segera mengatasi masalah
kemiskinan di Indonesia .
4.
Sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari
kita dukung semua program pemerintah dengan sungguh-sungguh demi masa depan
bangsa dan negara Indonesia terbebas dari kemiskinan.
5.
Marilah kita tingkatkan kepedulian dan kepekaan
sosial untuk membantu saudara kita yang masih mengalami kemiskinan.
6.
Sebagai
Mahasiswa hendaknya kita menganalisa masalah kemiskinan dari semua aspek.
7.
Bagi
Pemerintah, hendaknya mengatasai dan memberi solusi dari masalah-masalah
kemiskinan sehingga kemiskinan sedikit demi sedikit bisa diatasi.
8.
Bagi pembaca kami harapkan kritik dan saran
konstruktif





Tidak ada komentar:
Posting Komentar